Respon Implementasi B50 dan Regulasi Ekspor, Sekjen GAPKI Buka Rakercab 2026 di Aceh
JAKARTA, BIODIESEL INDONESIA - Ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin yang masih mencapai sekitar 60 persen mendorong urgensi percepatan riset bahan bakar nabati alternatif. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai Indonesia memiliki modal sumber daya alam yang sangat besar untuk menjadi pusat produksi dan pengembangan bioetanol berbasis biomassa kelapa sawit guna memperkuat kedaulatan energi nasional.
Peneliti BRIN, Roni, menjelaskan bahwa selain keberhasilan program biodiesel B50 yang terus dikembangkan menuju B60, diversifikasi ke sektor bahan bakar alternatif pengganti bensin menjadi langkah krusial yang tidak bisa ditunda.
“Pada 2025, Indonesia masih mengimpor sekitar 60 persen kebutuhan bensin sehingga riset pengembangan bahan bakar alternatif menjadi semakin penting,” ujar Roni dalam pemaparannya.
Poin-poin utama kalkulasi potensi limbah sawit, tantangan teknis generasi kedua, pengujian fasilitas pilot plant, hingga dimensi ketahanan nasional meliputi:
Kalkulasi Potensi Biomassa Sawit Nasional:
Tantangan Teknis dan Efisiensi Bioetanol Generasi Kedua:
Fasilitas Pilot Plant dan Kolaborasi Otomotif/Agribisnis:
Penguatan Ketahanan Nasional dan Keamanan Siber Infrastruktur:
Pengembangan bioetanol dari limbah biomassa kelapa sawit membuka pilar baru bagi diversifikasi energi nasional. Melalui riset berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, peneliti, serta industri, tantangan teknis dan efisiensi biaya diharapkan dapat segera teratasi demi terwujudnya kemandirian energi Indonesia.
Sumber: gapki.id