Fokus

Sinyal Positif Sektor Perkebunan: Harga CPO Berpotensi Meroket Menuju 2027 Ditopang El Niño dan Mandatori B50

JAKARTA, BIODIESEL INDONESIA - Sektor perkebunan kelapa sawit diproyeksikan makin berkilau menuju tahun 2027. Kombinasi ancaman El Niño yang dapat memangkas produksi serta melonjaknya permintaan domestik untuk program biodiesel B50 diprediksi bakal memperketat pasokan dan menjaga harga crude palm oil (CPO) tetap tinggi di pasar global.

Laporan riset CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) mencatat probabilitas terjadinya El Niño kuat pada akhir 2026 hingga awal 2027 mencapai lebih dari 90 persen. Kondisi defisit curah hujan di wilayah sentral seperti Kalimantan diperkirakan menekan produktivitas tandan buah segar (TBS) emiten hingga 4,5–5,8 persen secara tahunan.

Di sisi lain, kebutuhan CPO domestik dipastikan melonjak seiring penerapan penuh mandatori B50 sepanjang 2027 yang membutuhkan sekitar 17,6 juta ton bahan baku sawit. Ketersediaan CPO untuk pasar ekspor pun diproyeksikan bakal makin terbatas. Atas dasar katalis tersebut, CGSI menaikkan proyeksi harga acuan CPO Malaysia menjadi 4.800 ringgit Malaysia per ton pada 2027.

Tiga emiten sawit utama yang mencatatkan potensi pertumbuhan laba bersih dan proyeksi menarik di antaranya:

  • PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI): Proyeksi laba bersih inti 2027 melonjak 42,8 persen, didukung posisi kas bersih yang kuat.

  • PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG): Diunggulkan berkat biaya operasional yang efisien, produktivitas tinggi, serta dividend yield yang menggiurkan.

  • PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG): Menjadi salah satu saham pilihan utama seiring proses deleveraging dan arus kas operasional yang solid.

Melihat kuatnya kombinasi katalis pasokan dan permintaan ini, CGSI secara resmi menaikkan pandangan (outlook) terhadap sektor perkebunan Indonesia dari neutral menjadi overweight.

Sumber: idxchannel.com

Artikel Terkait