B50 Hadapi Batas Ekologis, Koalisi Sipil Dorong Intensifikasi Sawit Tua dan Biofuel Non-Pangan
JAKARTA, BIODIESEL SAWIT INDONESIA - Pemerintah menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional melalui akselerasi bahan bakar nabati (BBN) serta penambahan cadangan penyangga minyak bumi. Langkah strategis ini diambil guna mengurangi ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) di tengah gejolak dan ketidakpastian geopolitik global yang kian dinamis.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyusun Rencana Strategis (Renstra) lintas sektor bersama Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menggarap potensi bioetanol dari hulu ke hilir.
"Kami sedang menyiapkan renstranya bersama Pak Mentan (Menteri Pertanian), karena sektor hulunya merupakan kolaborasi erat antara Kementerian Pertanian dengan Kementerian ESDM," ujar Bahlil Lahadalia seusai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Selain bioetanol, Bahlil memastikan implementasi kebijakan mandatori biodiesel B50 dipastikan tetap dipertahankan sebagai benteng pertahanan pasokan energi dalam negeri.
"Menyangkut dengan B50 tetap kita pertahankan, karena ini adalah geopolitik yang tidak pernah kita tahu ujungnya ke mana," tegas Bahlil.
Poin-poin utama kolaborasi bioetanol Kementan-ESDM, kepastian kelanjutan B50, serta target peningkatan cadangan minyak nasional meliputi:
Penyusunan Renstra Bioetanol Hulu-Hilir:
Keberlanjutan Mandatori Biodiesel B50:
Pembangunan Storage Minyak di Sumatra & Target Cadangan 60 Hari:
Sinergi antara penguatan bahan bakar nabati berbasis sawit dan pertanian serta perluasan infrastruktur cadangan penyangga minyak bumi menjadi fondasi utama Indonesia dalam menjaga kedaulatan energi serta stabilitas ekonomi nasional di masa depan.
Sumber: metrotvnews.com