Ekosistem Bioenergi: B50, E5, dan Peluang Emas Generasi Muda untuk Kedaulatan Energi Nasional
PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) dan PT Pertamina (Persero) menyiapkan reaktivasi Pabrik Bayas Biofuels yang berlokasi di Indragiri Hulu, Riau. Proyek dengan kapasitas produksi sekitar 600.000 ton fatty acid methyl ester (FAME) per tahun ini dirancang menjadi sumber pasokan FAME pertama yang disediakan langsung oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) guna memperkuat rantai pasok biodiesel nasional.
Dalam skema kolaborasi ini, Agrinas Palma berperan di sisi hulu melalui penyediaan bahan baku perkebunan. Sementara itu, Pertamina memegang kapabilitas di bidang pengolahan, infrastruktur, serta penyerapan produk akhir (offtaker).
Direktur Utama Agrinas Palma Mohammad Abdul Ghani menyampaikan bahwa potensi lahan, kebun, dan fasilitas produksi perusahaan dapat disinergikan secara optimal dengan kemampuan Pertamina dalam pengembangan serta pemasaran energi.
“Agrinas Palma siap mengambil peran pada sisi hulu dengan memastikan ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan. Kolaborasi ini diharapkan dapat membentuk ekosistem bioenergi yang terintegrasi, mulai dari kebun, fasilitas pengolahan, infrastruktur pendukung, hingga penyerapan produk,” ujarnya, dikutip Jumat (11/9/2026).
Selain sektor biodiesel, kedua BUMN juga merancang pengembangan ekosistem bioetanol terintegrasi di Kalimantan Timur. Proyek ini menghubungkan perkebunan singkong seluas 4.000–6.000 hektare dengan pabrik pengolahan berkapasitas 100 kiloliter per hari. Dengan kebutuhan pasokan sekitar 200.000 ton singkong per tahun, fasilitas tersebut diproyeksikan mampu memproduksi 30.000 kiloliter bioetanol per tahun.
Pengembangan bioenergi ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan bahan baku domestik. Agrinas Palma memproyeksikan kebutuhan crude palm oil (CPO) Indonesia dapat menyentuh angka 104 juta ton pada 2045 untuk memenuhi kebutuhan biodiesel, pangan, ekspor, produk turunan, hingga Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Di sisi lain, sektor hulu masih dihadapkan pada tantangan produktivitas sawit rakyat. Saat ini, sekitar 2,8 juta hektare lahan sawit rakyat didominasi tanaman berusia lebih dari 25 tahun dengan rata-rata hasil produksi sebesar 2,6 ton CPO per hektare. Kondisi ini membuat penguatan integrasi dari perkebunan hingga fasilitas pengolahan menjadi krusial.
Rencana perluasan kerja sama ini telah dibahas bersama Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Dalam pertemuan yang turut melibatkan Pertamina Power Indonesia tersebut, Todotua meminta agar sinergi antar-BUMN ini segera diterjemahkan menjadi proyek konkret. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Kedua perusahaan kini tengah memfinalisasi perluasan ruang lingkup nota kesepahaman serta mempercepat kajian teknis dan bisnis. Selain bioenergi dan penyerapan produk, ruang lingkup kerja sama juga mencakup pemanfaatan produk samping, logistik dan distribusi, pembangkit listrik, hingga riset dan teknologi.
(sumber: Bisnis Indonesia)