G20 Amerika Serikat: Indonesia Suarakan Hak Berdaulat Transisi Energi dan Keunggulan B50
JAKARTA, BIODIESEL INDONESIA - Pemerintah menegaskan komitmennya dalam menjaga kedaulatan dan ketahanan energi nasional di tengah eskalasi konflik geopolitik global yang mengancam rantai pasok minyak dunia. Melalui implementasi penuh program Biodiesel 50% (B50), Indonesia dinyatakan telah terbebas secara penuh dari ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa gejolak di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, AS, Israel, hingga milisi Houthi berdampak langsung pada Selat Hormuz jalur logistik vital yang dilalui sekitar 23 persen pasokan minyak mentah (crude) impor Indonesia.
Di tengah kesenjangan konsumsi BBM nasional sebesar 1,6 juta barel per hari (bph) berbanding produksi siap jual (lifting) dalam negeri yang sekitar 600.000 bph, substitusi CPO kelapa sawit menjadi juru selamat utama bagi pasokan Solar nasional.
"Geopolitik dunia hari ini belum ada satu orang pun yang dapat meramalkan kapan selesai. Namun kita bersyukur untuk Solar kita sudah mempunyai CPO yang kita jadikan FAME untuk menjadi B50. Dari total kebutuhan Solar nasional sebesar 39 juta kiloliter (kl), 50 persen dipasok dari FAME CPO sawit. Jadi Solar kita tidak lagi impor, sudah clear," tegas Bahlil dalam Rakernas HIPPI di Jakarta, Senin (12/10/2026).
Poin-poin utama dampak B50, landasan regulasi, hingga rencana eksekusiBioetanol E50 meliputi:
Dampak Ekonomis & Lingkungan B50:
Melalui keberhasilan B50 yang membebaskan Indonesia dari ketergantungan Solar impor serta penyiapan E50 untuk substitusi bensin, pemerintah optimistis mampu membentengi perekonomian nasional dari krisis energi global secara berkelanjutan.
Sumber: cnbcindonesia.com