Fokus

Mandatori B50 Berjalan Mulus: Devisa Hemat Rp170 T, Nilai Tambah CPO Melonjak Rp23,49 T

JAKARTA, BIODIESEL INDONESIA - Langkah berani pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kemandirian dan kedaulatan energi nasional mulai membuahkan hasil nyata. Melalui implementasi mandatori biodiesel 50% (B50) yang efektif berjalan sejak pertengahan tahun ini, Indonesia diproyeksikan berhasil menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun sepanjang tahun 2026.

Mengutip rilis Badan Komunikasi Pemerintah RI (Bakom RI), Selasa (13/10/2026), penerapannya memungkinkan Indonesia menghentikan impor solar secara total, sekaligus berpotensi mencatatkan surplus pasokan BBM jenis solar hingga empat juta kiloliter (KL) pada akhir 2026.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan arti penting pencapaian sejarah baru ini bagi neraca perdagangan energi nasional.

“Dengan implementasi B50 ini kita tidak impor solar lagi, ini pertama kali dalam sejarah,” ujar Bahlil saat peluncuran mandatori B50 di Karawang.

Poin-poin utama lonjakan penghematan devisa, dampak multiplier ekonomi, penyerapan tenaga kerja, hingga instruksi B100 meliputi:

  • Eskalasi Penghematan Devisa (+27,5%): Proyeksi penghematan devisa Rp170 triliun pada era B50 meningkat pesat dibanding capaian Rp133,33 triliun saat kebijakan B40 diberlakukan pada 2025.

  • Dongkrak Nilai Tambah Industri CPO: Pemanfaatan minyak sawit mentah (crude palm oil) untuk campuran 50% FAME biodiesel ini mendongkrak nilai tambah hilirisasi CPO menjadi Rp23,49 triliun (naik dari Rp20,94 triliun pada masa B40).

  • Perlindungan Petani & Serapan Tenaga Kerja: Penyerapan CPO domestik memberikan jaminan pasar yang stabil, menjaga harga Tandan Buah Segar (TBS) petani sawit dari fluktuasi pasar global, serta mampu menyerap 2,1 juta tenaga kerja di rantai pasok hulu-hilir.

  • Reduksi Emisi Karbon: Dari sisi keberlanjutan lingkungan, B50 diproyeksikan berhasil memangkas emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO2e sepanjang 2026, beriringan dengan akselerasi proyek PLTS 100 GWp dan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).

  • Visi Presiden Prabowo Menuju B100: Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa keberhasilan B50 merupakan batu loncatan awal. Pihaknya telah memerintahkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk melakukan kajian komprehensif terkait akselerasi bauran yang lebih tinggi, mulai dari B60 hingga target B100.

"Saya menuntut kemandirian energi B40 tidak cukup. Bahkan saya mendorong ke arah B100. Namun menteri-menteri meyakinkan saya bahwa dengan B50 saja kita sudah tidak impor solar lagi. Ini adalah prestasi bangsa yang luar biasa," puji Presiden Prabowo.

Implementasi penuh B50 membuktikan bahwa penguatan komoditas sawit dalam negeri merupakan pilar kunci dalam mewujudkan kemandirian energi terbarukan sekaligus benteng ekonomi nasional di tengah krisis global.

Sumber: rri.co.id

Artikel Terkait