Menjaga Keandalan Sistem Bahan Bakar di Tengah Peningkatan Campuran Biodiesel
Pertamina Patra Niaga berkomitmen dalam pengembangan transisi energi hijau di Indonesia melalui Sustainable Aviation Fuel (SAF). Bahan bakar ramah lingkungan bagi sektor penerbangan ini memanfaatkan Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah sebagai salah satu bahan baku utamanya.
Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Joko Pranoto, mengungkapkan bahwa perusahaan telah merintis pengembangan SAF sejak lima tahun lalu. Langkah proaktif ini diambil tanpa menunggu regulasi maupun pasar sepenuhnya siap.
“Pertamina Patra Niaga menjadi pionir di Indonesia dengan memulai pengembangan SAF sejak lima tahun lalu. Meskipun tantangan komersialnya masih besar, kami memilih memulai lebih awal, tidak menunggu pasar maupun regulasi sepenuhnya siap untuk mulai bergerak,” ujar Joko sebagaimana dikutip dari media internal perusahaan.
Sebagai pusat produksi utama, Kilang Pertamina Cilacap di Jawa Tengah memegang peran yang sangat strategis. Dengan kapasitas pengolahan mencapai 348.000 barel per hari, kilang ini diproyeksikan menjadi green refinery pertama di Indonesia yang fokus memproduksi bahan bakar ramah lingkungan berskala besar.
Selain Kilang Cilacap, Pertamina Patra Niaga juga memperluas infrastruktur pendukungnya. Joko menyebutkan bahwa Pertamina sudah melakukan uji coba co-processing di Kilang Dumai dan Balongan.
“Seluruh persiapan ini dilakukan menyongsong penerapan mandat penggunaan SAF sebesar 1% yang direncanakan mulai berlaku tahun depan,” tambahnya.
Kualitas SAF produksi Kilang Cilacap ini telah mengantongi sertifikasi internasional dari International Sustainability and Carbon Certification (ISCC). Saat ini, bahan bakar terbarukan tersebut telah disalurkan untuk memenuhi kebutuhan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta serta Bandara Ngurah Rai Bali, yang dimanfaatkan oleh maskapai nasional seperti Garuda Indonesia, Pelita Air, hingga sejumlah maskapai asing.
Joko menambahkan, pengembangan SAF membutuhkan ekosistem yang terintegrasi, mulai dari ketersediaan bahan baku (feedstock), fasilitas produksi, pembiayaan, maskapai sebagai pengguna (offtaker), hingga dukungan regulasi.
Pasokan UCO menggunakan dua jalur utama yaitu business-to-business (BtoB) dan business-to-consumer (BtoC). Dalam skema BtoB, Pertamina menggandeng program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), hingga sektor perhotelan, restoran, kafe, dan asosiasi berskala besar seperti Gabungan Pengusaha/Pelaku Usaha Limbah Minyak Goreng Indonesia (Gapulimgi) yang memiliki potensi pasokan fantastis mencapai 240 ribu hingga 300 ribu ton per tahun.
Melalui skema BtoC, masyarakat luas dan komunitas dapat turut serta menjual jelantah rumah tangga langsung kepada Pertamina dengan harga Rp6.000 per liter. Harga untuk skema BtoB sendiri diproyeksikan berada di atas angka tersebut.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty, menjelaskan bahwa pemanfaatan minyak jelantah menjadi SAF tidak hanya mendukung dekarbonisasi industri penerbangan, tetapi juga mengusung prinsip ekonomi sirkular. Limbah rumah tangga dan industri diubah menjadi produk bernilai tinggi dalam rantai nilai energi.
"Bagi kami, keberlanjutan dan ketahanan energi bukan dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya perlu dibangun secara bersamaan," tegas Kitty dalam rangkaian acara Pertamax Journey di Cilacap pada pertengahan September 2026.
Melalui inovasi SAF ini, Pertamina Patra Niaga optimis dapat menjawab kebutuhan global dan domestik akan bahan bakar penerbangan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kedaulatan energi nasional.