Fokus

Belajar dari Kesuksesan B50, Prabowo Perintahkan Percepatan E20 dan E50 demi Lepas dari Impor BBM

JAKARTA, BIODIESEL INDONESIA - Presiden RI Prabowo Subianto memberikan arahan tegas kepada Dewan Energi Nasional (DEN) untuk mengambil langkah cepat dan strategis demi mengamankan ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya gejolak geopolitik global. Fokus utama instruksi ini meliputi percepatan adopsi bahan bakar nabati berbasis bioetanol, optimalisasi ladang migas eksisting, hingga penataan regulasi melalui RUU Migas.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa Presiden meminta DEN segera menyiapkan Peta Jalan (roadmap) penerapan bensin campuran etanol E20 (20% etanol) dan E50 (50% etanol) sebagai upaya melepas ketergantungan pada impor BBM.

“Ini sebagai bentuk mendorong ketersediaan BBM dalam negeri. Yang B50 mengantarkan kita untuk tidak lagi melakukan impor solar. Nah, belajar dari sini, Bapak Presiden tadi memerintahkan untuk segera menyusun langkah-langkah yang sama untuk kita membangun E20, E50,” ungkap Bahlil usai Sidang DEN, Jumat (18/9/2026).

Pelajaran dari B50 dan Strategi Hulu Migas

Langkah akselerasi bioetanol ini merujuk pada kesuksesan program B50 yang diluncurkan sejak 1 Juli 2026. B50 tidak hanya berhasil menghentikan total impor solar, tetapi juga diproyeksikan menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun pada tahun 2026.

Selain percepatan E20 dan E50, Presiden Prabowo menetapkan sejumlah pilar utama penguatan energi:

Pemanfaatan Teknologi di Sumur Tua: Optimalisasi ladang migas eksisting melalui intervensi teknologi guna mendongkrak laju produksi.

Penataan 45.000 Sumur Rakyat: Mengelola potensi puluhan ribu sumur minyak rakyat secara profesional agar dapat masuk ke dalam rantai pasok nasional tanpa adanya penyimpangan.

Eksplorasi Masif: Mendorong pencarian cadangan migas baru di cekungan dan blok-blok minyak yang belum tergarap.

Penguatan Kelembagaan & RUU Migas: Memperkuat posisi DEN di bawah langsung kendali Presiden serta merevisi RUU Migas melalui kolaborasi ketat antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha.

Melalui integrasi sektor hulu migas dan hilir bioenergi, pemerintah optimistis dapat membangun kemandirian energi nasional yang tangguh dan tahan terhadap krisis global.

Sumber: idxchannel.com

Artikel Terkait