Penyaluran B50 Capai 94 Persen SPBU, Pemerintah Perketat Spesifikasi Mutu dan Uji Keandalan Mesin
Penggunaan sawit di dalam khususnya sektor energi terus meningkat di tahun depan. Ada kekhawatiran kinerja ekspor bakalan menurun. Tantangan lainnya adalah produksi sawit diperkirakan turun menjadi 53,69 juta ton pada 2027 sebagai dampak El Niño di perkebunan.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono memperkirakan dampak El Niño terhadap produksi belum terlalu terasa pada tahun ini. Namun, efeknya diperkirakan mulai lebih nyata pada 2027.
“Untuk tahun ini belum terlalu terdampak, tetapi baru tahun depan (2027) produksi bisa turun 4-5 juta ton,” ujar Eddy.
Dalam presentasinya di ASPEBINDO Bioenergy Business Summit 2026, Eddy Martono menguraikan tren penurunan produksi sawit akibat El Nino sebesar 8,7% menjadi 53,69 juta ton pada 2027, daripada tahun 2026 yang sebesar 58,8 juta ton.
“Selama 24 jam kami terus memantau El Nino karena akan berdampak kepada produksi sawit. Namun apabila produksi tidak terdampak El Nino dapat mencapai 59,5 juta ton pada 2027,” jelasnya.
Penurunan tersebut mencakup produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan palm kernel oil (PKO). Karakter tanaman kelapa sawit membuat dampak kekeringan tidak selalu langsung tercermin pada produksi saat fenomena El Niño terjadi. Gangguan ketersediaan air dapat memengaruhi proses fisiologis tanaman, pembentukan bunga, hingga perkembangan tandan buah yang kemudian baru terlihat dalam beberapa bulan berikutnya.
Eddy Martono juga menyoroti implementasi mandatori Biodiesel B50 yang akan menjadi kebijakan strategis pemerintah dalam memperkuat hilirisasi sawit dan erdasarkan pemantauan GAPKI di berbagai sentra perkebunan sawit Indonesia, dampak El Nino yang sebelumnya dikhawatirkan menekan produksi secara signifikan ternyata lebih ringan dibanding perkiraan awal.
Menurut Eddy Martono, laporan dari cabang-cabang GAPKI di berbagai wilayah menunjukkan bahwa sejumlah daerah seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, hingga Kalimantan Utara masih mendapatkan curah hujan yang cukup baik. Sementara itu, beberapa wilayah lainnya memang mulai memasuki musim kemarau, namun kondisinya belum separah proyeksi sebelumnya.
Karena itu, potensi penurunan produksi kelapa sawit nasional kini diperkirakan berada pada kisaran maksimal 3 juta ton. Angka tersebut jauh lebih baik dibanding estimasi awal yang sempat mendekati 5 juta ton (Dapat dilihat dari tabel terlampir).
Eddy Martono menyebutkan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai dampak fenomena El Nino terhadap produksi sawit nasional masih berada dalam tingkat yang terkendali. Kondisi ini membuat industri kelapa sawit Indonesia tetap optimistis menghadapi implementasi program Biodiesel B50 yang menjadi salah satu pilar penguatan ketahanan energi nasional pada 2026.
Menurutnya, program biodiesel telah terbukti meningkatkan konsumsi minyak sawit dalam negeri secara signifikan. Pada 2025, implementasi B40 diperkirakan menyerap sekitar 13 juta ton minyak sawit.
Dengan penerapan B50 pada 2026, kebutuhan bahan baku biodiesel diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 14 juta ton.
Kenaikan tersebut diperkirakan terus berlanjut pada 2027, dengan kebutuhan biodiesel mencapai sekitar 16 hingga 17 juta ton. Jika ditambah kebutuhan untuk sektor pangan, oleokimia, dan berbagai produk turunan lainnya, total konsumsi minyak sawit domestik diproyeksikan mencapai sekitar 29 juta ton.
Angka tersebut menunjukkan semakin strategisnya peran industri kelapa sawit dalam mendukung kebutuhan energi terbarukan sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.
GAPKI menegaskan dukungannya terhadap kebijakan pemerintah yang memprioritaskan pemenuhan kebutuhan minyak sawit dalam negeri sebelum dialokasikan untuk pasar ekspor.
Menurut Eddy, keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor tetap dapat dijaga selama kebijakan yang diterapkan mempertimbangkan keberlanjutan industri serta kesejahteraan petani sawit.
Ia juga mengapresiasi skema pembiayaan program biodiesel melalui pungutan ekspor (levi) yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Namun demikian, ia mengingatkan agar kebijakan pungutan ekspor tidak dinaikkan secara berlebihan karena berpotensi menekan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di dalam negeri.
Menjaga Ekspor
Meski produksi berpotensi turun, GAPKI memastikan kebutuhan minyak sawit di dalam negeri tetap menjadi prioritas.
Artinya, ketika pasokan menyusut, penyesuaian lebih besar kemungkinan terjadi pada volume ekspor. Eddy memperkirakan penurunan produksi sekitar 4 juta-5 juta ton pada 2027 juga akan tercermin pada berkurangnya volume ekspor.
“Pasokan dalam negeri tetap diutamakan. Yang akan turun adalah volume ekspor, penurunan sekitar 4-5 juta ton juga di tahun 2027,” ujarnya.
Sementara itu,PASPI memperkirakan konsumsi CPO domestik Indonesia pada 2026 berada di kisaran 26-27 juta ton. Angka itu meningkat dari sekitar 24,6 juta ton pada 2025.
Kenaikan terutama didorong oleh implementasi B50 yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Program tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 14 juta ton CPO. Sementara kebutuhan sektor pangan sekitar 10,2 juta ton dan oleokimia sekitar 2,2 juta ton.
Dengan produksi CPO 2026 yang diperkirakan sekitar 49,2 juta ton, volume yang tersedia untuk ekspor berada di kisaran 27-28 juta ton.
Tekanan akan semakin besar apabila B50 diterapkan secara penuh pada 2027. Kebutuhan CPO untuk biodiesel diperkirakan mencapai sekitar 18 juta ton, sehingga total konsumsi domestik dapat meningkat menjadi sekitar 30 juta ton.
Dengan produksi yang diproyeksikan hanya sekitar 47,6 juta ton, ruang untuk ekspor pun semakin menyempit.