Mandatori B50 Berjalan Mulus: Devisa Hemat Rp170 T, Nilai Tambah CPO Melonjak Rp23,49 T
JAKARTA, BIODIESEL INDONESIA - Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan komitmennya untuk mentransformasi struktur industri perkebunan nasional melalui peningkatan produktivitas di tingkat hulu serta penguatan hilirisasi di tingkat hilir.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Alim Setiawan Slamet, mendorong agar lebih dari 90 persen ekspor perkebunan Indonesia ke depan berbentuk produk turunan bernilai tambah tinggi, guna menghapus ketergantungan historis terhadap pengiriman bahan mentah.
Pernyataan tersebut disampaikan Wamentan Alim saat membuka gelaran International Conference and Expo on Palm Oil and Others (ICExPO) 2026 ke-9 di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Rabu (4/11/2026). Inisiatif ini selaras dengan agenda swasembada pangan, kemandirian energi, dan industrialisasi nasional dalam kerangka Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
“Perkebunan bukan hanya sumber devisa. Perkebunan juga menopang ekonomi, menciptakan lapangan kerja, menyejahterakan masyarakat, dan menjadi tumpuan energi terbarukan kita ke depan. Target kita, mudah-mudahan bisa mencapai lebih dari 90 persen ekspor perkebunan sudah dalam bentuk produk turunan,” ujar Alim Setiawan Slamet.
Poin-poin utama target 7 komoditas hilirisasi, potensi lonjakan nilai tambah kelapa, rehabilitasi lahan hulu, serta integrasi bioenergi meliputi:
Target Hilirisasi 7 Komoditas Unggulan & Perluasan Lahan Hulu:
Simulasi Nilai Tambah: Kelapa Butiran vs Virgin Coconut Oil (VCO):
Penekanan Impor Gula & Penyiapan Lahan Bioenergi (B50/E10):
Sinergi Pembagian Peran dan Inovasi Teknologi:
Melalui penyelenggaraan ICExPO 2026, Kementan meyakini kolaborasi antara penentu kebijakan, pengusaha, dan lembaga riset mampu melahirkan terobosan tepat guna demi mewujudkan industri perkebunan Indonesia yang mandiri, berdaya saing global, dan berkeadilan bagi seluruh pekebun.
Sumber: perkebunan.go.id