JAKARTA, BIODIESEL INDONESIA - PT Pertamina (Persero) mengakselerasi implementasi program biodiesel B50 guna memperkuat ketahanan energi nasional dan menekan ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Langkah strategis ini diproyeksikan mampu memangkas kebutuhan impor solar hingga 18 juta kiloliter serta menghemat devisa negara mencapai Rp170 triliun pada 2026.
Senior Vice President Business Development Pertamina, Ary Kurniawan, menegaskan pentingnya diversifikasi berbasis komoditas lokal seperti kelapa sawit untuk mengoptimalkan potensi energi dalam negeri.
“Untuk menjaga ketahanan energi, kita perlu melakukan diversifikasi. Indonesia bukan hanya memiliki sumber daya minyak dan gas, tetapi juga memiliki sumber daya perkebunan seperti sawit yang dapat diolah menjadi energi,” ujar Ary di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Poin-poin utama dampak ekonomi, proyeksi dekarbonisasi, serta pengembangan energi hijau terintegrasi Pertamina meliputi:
Melalui perluasan program B50 dan diversifikasi biofuel, Pertamina optimistis mampu membangun kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi jejak karbon di sektor transportasi hulu-hilir.
Sumber: ekonomi.bisnis.com