G20 Amerika Serikat: Indonesia Suarakan Hak Berdaulat Transisi Energi dan Keunggulan B50
Penerapan program biodiesel 50 persen (B50) yang dimulai sejak 1 Juli 2026 tidak hanya memperkuat kemandirian energi nasional, tetapi juga menarik perhatian internasional. Sejumlah negara seperti Jepang, Malaysia, hingga beberapa negara di Eropa mulai mempelajari langkah Indonesia sebagai pelopor pencampuran biodiesel 50 persen pada solar.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa pengujian B50 telah rampung pada sektor otomotif, alat dan mesin pertanian, alat berat pertambangan, angkutan laut, serta genset. Saat ini, pengujian tersisa di sektor perkeretaapian dengan target selesai pada Desember 2026.
“Jadi pertama kali Indonesia melakukan pengujian ini dan banyak yang mengikuti, bahkan sekarang menjadi ketertarikan negara-negara lain. Sekarang ada dari Jepang, dari Malaysia, dari Eropa datang belajar ke kami,” kata Eniya dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Pemanfaatan B50 yang diasumsikan mencapai 18 juta kiloliter diperkirakan menekan impor solar hingga 310 ribu barel per hari serta mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 44,46 juta ton CO2. Dari sisi ekonomi, program ini diproyeksikan meningkatkan devisa negara hingga Rp170 triliun pada 2026 dan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.
Hingga September 2026, total penyaluran biodiesel mencapai 10,69 juta kiloliter, dengan 3,4 juta kiloliter di antaranya merupakan penyaluran B50. Sebanyak 76 dari 104 titik serah telah menyalurkan B50, sementara sisanya memanfaatkan masa relaksasi hingga 30 September 2026 untuk menghabiskan stok B40.
Dari sisi distribusi ritel, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mencatat B50 telah menjangkau 120 dari 121 Terminal BBM dan 6.050 dari 6.412 SPBU (94 persen). Direktur Utama PPN, Mars Ega Legowo Putra, menyebutkan satu terminal di Sintang belum menyalurkan B50 akibat pendangkalan sungai di musim kemarau.
Meski menghadapi kendala pendangkalan di 17 alur sungai terminal BBM dan tingginya disparitas harga antara Biosolar subsidi dan nonsubsidi, Pertamina memastikan distribusi serta respons masyarakat tetap baik.
“Respons dari masyarakat untuk B50 secara umum, baik itu dari sisi kualitas maupun dari sisi kuantitas, itu berjalan dengan baik,” kata Dirut PPN.