Fokus

Penerapan B50 Hentikan Impor Solar dan Hemat Devisa Rp170 Triliun, Akademisi Ungatkan Potensi Utang Karbon Sawit

JAKARTA, BIODIESEL INDONESIA - Penerapan kebijakan bahan bakar nabati (BBN) mandatori biodiesel B50 mencatatkan pencapaian strategis bagi ketahanan energi nasional. Indonesia tercatat berhasil menghentikan secara total impor solar jenis CN 48 sejak 1 Juli 2026 dan memproyeksikan penghematan devisa negara mencapai Rp170 triliun per tahun.

Peneliti sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai penghentian impor solar berkat B50 merupakan langkah nyata penekanan impor yang menjaga perputaran uang tetap berada di dalam negeri.

“Dalam dua tahun terakhir, pemerintah menempatkan energi sebagai salah satu prioritas utama. Ada capaian nyata, Indonesia berhenti mengimpor solar sejak 1 Juli 2026 berkat biodiesel B50. Setiap liter solar yang tidak lagi diimpor menahan uang tetap beredar di dalam negeri,” ujar Yayan, Kamis (1/10/2026).

Poin-poin kunci capaian ekonomi, target lingkungan, serta catatan kritis akademisi terkait implementasi B50 meliputi:

  • Rekor Perintis Biodiesel Global: Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang mengimplementasikan campuran biodiesel 50% ke dalam bahan bakar minyak jenis solar, melanjutkan sukses mandatori B30, B35, dan B40.

  • Proyeksi Penurunan Emisi & Penyerapan Kerja: Kementerian ESDM mencatat implementasi B50 pada 2026 berpotensi menekan emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO2 ekuivalen, memicu peningkatan nilai tambah CPO domestik, serta menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.

  • Target Distribusi 100% SPBU: Kementerian ESDM menargetkan penyaluran B50 di seluruh SPBU secara nasional dapat terealisasi penuh per 1 Oktober 2026.

  • Risiko Utang Karbon & Pilihan Bioetanol: Di balik keberhasilan ekonomi, Yayan mengingatkan pemerintah agar mengevaluasi potensi dampak ekologis. Penggunaan CPO skala besar berisiko memicu "utang karbon" akibat potensi alih fungsi lahan hutan dan gambut. Sebagai alternatif penyeimbang emisi, Yayan mendorong akselerasi Bioetanol E10 yang mampu memangkas hingga 11 juta ton emisi per tahun.

Keberhasilan program B50 membuktikan lompatan besar Indonesia menuju kemandirian energi nasional. Namun, evaluasi ketat terhadap keberlanjutan rantai pasok CPO dari hulu ke hilir tetap diperlukan agar ambisi ketahanan energi berjalan selaras dengan target komitmen iklim global.

Sumber: antaranews.com

Artikel Terkait